Selasa, 07 Februari 2012

info bisnis.

Kepercayaan Rakyat kepada Media Tinggi

TEMPO.CO , Jakarta : Hasil survei Barometer Kepercayaan 2012 oleh Indopacific Edelman menunjukkan kadar kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap media massa mencapai 80 persen. Angka ini yang tertinggi di antara 25 negara yang disurvei.

Sebagai perbandingan, rata-rata kepercayaan dunia terhadap media massa hanya 53 persen dan Asia-Pasifik 62 persen. "Cina saja 79 persen," kata Henry Manampiring, Brand and Corporate Strategist Indopacific Edelman, kemarin.

Ia menjelaskan, survei dilakukan di 25 negara, termasuk Indonesia, dengan melibatkan 30 ribu responden berusia di atas 18 tahun. Media massa yang dijadikan obyek adalah surat kabar, majalah, televisi, radio, dan media sosial Internet.

Khusus untuk Indonesia, survei melibatkan 1.000 responden yang masuk kategori umum, dan 200 responden yang masuk kategori kalangan elite informasi. Henry mengakui hasil survei tahun ini lebih rendah ketimbang tahun lalu. Pada 2011, tingkat kepercayaan terhadap media massa mencapai 86 persen.

Namun diperkirakan penurunan tersebut terjadi lantaran masuknya responden dari kalangan umum. Tahun lalu responden dibatasi hanya kalangan elite informasi.

Secara keseluruhan, tingkat kepercayaan terhadap media massa tradisional, seperti koran, radio, dan televisi, meningkat 15 persen menjadi 44 persen. Adapun sumber Internet, seperti Google, naik 8 persen menjadi 31 persen. Begitu pula tingkat kepercayaan terhadap media sosial naik 10 persen menjadi 18 persen.

Majalah menempati porsi 54 persen, surat kabar 48 persen, televisi 45 persen, dan radio 30 persen. "Ini menandakan media massa di Indonesia dapat menjadi acuan bagi siapa pun untuk mencari informasi," ujarnya.

Salah satu dampaknya adalah bisnis media massa berpeluang berkembang karena pembaca ternyata masih percaya terhadap isi berita. "Kemungkinan bertambahnya perusahaan baru dalam industri media massa juga terbuka lebar," kata Henry.

Sependapat dengan Henry, anggota Komisi Penyiaran Indonesia, Dadang Rahmat Hidayat, menyatakan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap media massa merupakan peluang. Prospek ini baik untuk media massa yang sudah ada ataupun yang akan lahir.

Untuk media yang sudah terbit, tak berarti bisa tenang. Tantangannya di masa mendatang adalah bagaimana memelihara pasar dengan meningkatkan profesionalitas. Dosen komunikasi politik Universitas Padjadjaran ini mengingatkan media agar terus berupaya memberikan informasi yang tepat.

Selasa, 24 Januari 2012

info umum.

Tips Sukses Melamar Pekerjaan di Surat Kabar.

Penulis : Annisa Indri Lestari
http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/2012/01/23/6526/13/Tips-Sukses-Melamar-Pekerjaan-di-Surat-Kabar

MENDAPATKAN pekerjaan di surat kabar merupakan sebuah tantangan. Ada persaingan di setiap pelamar yang dituntut memiliki pendidikan solid serta menunjukkan bakat dan ketrampilan. Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika Anda merencanakan pencarian lowongan pekerjaan.

1. Evaluasi diri
Identifikasi pengalaman yang dapat memperkuat aplikasi pekerjaan yang dilamar. Seperti pengalaman kerja, spesialisasi pendidikan, pengetahuan bahasa dan budaya. Ceritakan tentang kekuatan dan kelemahan Anda kepada Editor. Dan mereka akan menilai hasrat Anda untuk bekerja di koran.

2. Tahu apa yang Anda inginkan
Wawancara diri sendiri tentang apa yang Anda harapkan dari pekerjaan yang akan dilamar. Jalan karir apa yang ingin diikuti, misalnya pelaporan, fotografi, desain grafis dan manajemen. Apakah Anda bersedia untuk bepergian jauh dan ditempatkan di daerah terpencil?

3. Memahami pasar
Surat kabar menawarkan kesempatan luas bagi wartawan. Mereka biasanya lebih tertarik pada entry level dengan ketrampilan khusus pada pelaporan. Sebab wartawan muda biasanya mempunyai kontak berbagai komunitas dan wawasan.

4. Baca
Membaca merupakan karakteristik seorang wartawan. Anda harus terbiasa membaca koran lokal, koran kampus, surat kabar nasional, buku-buku tentang pers dan majalah.

5. Siapkan surat lamaran
Cara terbaik memperkenalkan diri kepada Editor adalah melalui surat lamaran atau riwayat hidup.

6. Akurasi
Bagi banyak pelamar, surat aplikasi dapat mengungkapkan kecerobohan. Pastikan semua informasi dalam surat lamaran adalah benar. Termasuk nama, judul, alamat. Salah ejaan, kesalahan ketik, ketidakakuratan dan ungkapan canggung mengakhiri peluang Anda diterima. (*/OL-06).

Inilah Tiga Alasan Kaum Muslim Sulit Berintegrasi dengan Masyarakat Eropa.


REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Pakar Politik Universitas Boston, Jonathan Laurance mengatakan ada tiga alasan yang menyebabkan komunitas Muslim sulit berintegrasi dengan masyarakat Eropa. Ketiga alasan itu lebih condong kepada perilaku dan sikap negara-negara Eropa terhadap komunitas Muslim.

Alasan pertama, keberadaan partai-partai sayap kanan Eropa hanya memperburuk situasi dengan sikap anti-Islam. Sikap itu sengaja disuarakan guna menghambat asimilasi dan memicu tindak radikalisme sehingga memaksa pemerintah di negara-negara Eropa menekan komunitas Muslim.

“Apa yang terjadi sekarang bukan masalah agama melainkan pengarahan opini yang memunculkan pandangan sinis terhadap Islam, hilangnya kewibawaan hukum dan disharmonis hubungan antar umat beragama,” kata dia seperti dikuti nytimes.com, Selasa (24/1).

Alasan kedua, negara Eropa khawatir dengan dibukanya studi Islam yang dianggap sebagai pengakuan dan akomodasi terhadap komunitas Muslim. Padahal, dengan memperkuat hak-hak komunitas Muslim, selanjutnya akan menggiring komunitas Muslim untuk memberikan sumbangsih salah satunya terkait pencegahan aktivitas radikalisme.
“Hak-hak seperti ini akan memberi makna terhadap jaminan konkret negara-negara Eropa terhadap kebebasan beragama,” kata dia.

Alasan ketiga, negara-negara Eropa tidak merangkul organisasi Muslim. Padahal posisi organisasi Muslim sangat vital dalam komunitas Muslim. Pemerintah negara-negara Eropa sudah sewajarnya untuk meminta masukan kepada organisasi Muslim sebelum menjalankan kebijakan.

“Keberadaan organisasi bukan berarti ancaman tetapi mereka sangat berperan dalam mendamaikan masalah praktis yang menimpa komunitas Muslim. Sebagai contoh saja, bagaimana Dewan Agama Islam perancis, Konfensi Islam jerman, Komite Masjid dan Islam Italia, dan Dewan Nasional Imam Inggris memainkan peranan strategis dalam komunitas Muslim saat menghadapi tekanan,” ungkapnya.